Berhenti Menjadi Orang Biasa
Mungkin Kita Pernah menyaksikan sebuah acara di salahsatu televisi di indonesia yang bernama "BENTENG TAKESHI", dimana Sebuah keOptimisan dan keyakinan tampak dari seluruh peserta, apabila mereka ditanya oleh pembawa acaranya " APAKAH ANDA BISA MELEWATI RINTANGAN ITU" mereka selalu menjawab dengan kata-kata “Saya Pasti Bisa”, sebuah kata yang jarang ditemui oleh manusia di Indonesia. Kata-kata dan keyakinan bahwa “Saya pasti berhasil”, walaupun pada akhirnya mereka kalah. Namun kekalahan itu adalah kekalahan dari kegagalan, bukan kekalahan akibat mereka tidak bertanding.
Saya pernah punya seorang teman, sebut saja A, sebenarnya ia tidaklah terlalu pintar, tidak pernah mendapat urutan 5 besar di kelas, namun ia hampir selalu ikut dalam setiap perlombaan, tidak peduli bagaimanapun hasilnya namun selama ia masih ada waktu, maka ia akan selalu ikut. Hal yang berbeda dengan teman saya satunya lagi, sebut saja B, ia tergolong siswa yang amat berprestasi, namun setiap ada lomba, ia lebih memilih mundur dengan alasan, “Ah paling-paling yang menang nanti si X”,
Pada zaman kekhalifahan pernah ada seorang Panglima Perang bernama Thariq, yang dengan jumlah pasukan cenderung minim, mendarat di sebuah batu karang tepi pantai untuk membebaskan suatu daerah dari kekuasaan seorang Penguasa Zhalim. Setibanya di Pantai, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal. Lalu ia berkata pada pasukannya, “Tidak ada lagi jalan ke Belakang, Di Belakang adalah laut, dan di Depan adalah musuh, Jika kalian tetap ingin hidup, tidak ada cara lain selain mengalahkan mereka”, maka pasukan itu pun terus maju, dan akhirnya pasukan itu pun menang. Dan selat itupun sekarang dinamai selat Jibraltar.
Saudaraku........, adakalanya kita harus mempunyai semangat seperti peserta Benteng Takeshi. Yang mana kita tahu bahwa kita akan kalah namun kita harus tetap berusaha, berusaha untuk membalik keadaan. Nillai sebuah keOptimisan adalah teramat besar. Apa yang kita pikir, mampu mempengaruhi jalan hidup kita. Bila kita berpikir “Saya pasti Bisa” Insya Allah kemenangan di depan mata, namun apabila kita berpikir gagal, maka sekeras apapun kita dipaksa untuk menang, tetaplah kegagalan di depan mata.
Kita pun juga harus bisa menghadapi kegagalan, namun jadikanlah kegagalan yang kita dapat adalah sebuah kegagalan yang terencana sebelumnya. Bukan kegagalan akibat tidak berusaha. Berusahalah untuk terus melaju ke depan, walaupun harus dengan merangkak Dan setiap kita melangkah ke depan, bakarlah semua jalan yang telah kita lalui sehingga tidak mungkin ada kemungkinan bagi kita untuk mundur ke belakang. Majulah dengan riang dan tersenyum karena esok adalah milik kita.
Teman saya pernah berkata bahwa bila kita terlalu optimis, bila kalah, itu akan terlalu menyakitkan. Tapi tunggu dulu, Ini bisa dicegah dengan menempatkan 99% optimis dan 1 % resiko kegagalan terencana (bukan 1% pesimis), tetaplah optimis dalam 0,01 detik terakhir usaha kita, dan selepasnya, marilah berserah diri kepada Yang maha Kuasa ( Tawakkal). Apapun yang terjadi, insya Allah itulah yang terbaik menurut-Nya bagi kita. Terimalah apa pun hasilnya setelah kita berusaha dan kita yakin kita Bisa.
Saudaraku..... akhirnya marilah kita bersama-sama mengundurkan diri dari manusia biasa, dan mendaftarkan diri menjadi manusia luar biasa.
Rabu, 12 Agustus 2009
Stop Pesimisme
Langganan:
Posting Komentar (Atom)














Tidak ada komentar:
Posting Komentar